Diskusi Publik: Relevansi Tuntunan Sayyidi Syekhunal Mukarom di Era Milenial - Novia

Saturday, December 28, 2019

Diskusi Publik: Relevansi Tuntunan Sayyidi Syekhunal Mukarom di Era Milenial



Oleh : Novia Kurniasari

Cirebon : Pada hari ini saya berkesempatan mengikuti kegiatan diskusi publik Jama'ah Asy-syahadatain yang bertempat di Dusun Ciheurang, Desa Munjul, Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon. Kegiatan ini menjadi semakin menarik bagi saya, pasalnya di inisiasi oleh Ikatan Remaja Masjid Miftahul Huda (28/12/2019).

Diskusi Publik Relevansi Tuntunan Alhabib Umar Bin Ismail Bin Yahya di Era Milenial



Diskusi publik yang bertajuk "Relevansi Tuntunan Al-Habib Umar Bin Ismail Bin Yahya di Era Milenial" ini tak lepas dari peran para pemuda yang turut andil dalam menguatkan dan mengkaji lebih dalam tentang tuntunan yang di ajarkan oleh Habib Umar bin Ismail bin Yahya, yang oleh Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan, Habib Umar bin Ismail bin Yahya merupakan Quthbul Aqtab terlama di tanah jawa.


Diawali dengan lantunan sholawat oleh tim hadroh Al-Hasan Munjul Pesantren sejak pukul 08.00 pagi, kegiatan ini dihadiri oleh narasumber dan ratusan audiens dari  berbagai kalangan, mulai dari anak muda setempat, mahasiswa/i hingga ibu-ibu.

Diskusi Publik Relevansi Tuntunan Alhabib Umar Bin Ismail Bin Yahya di Era Milenial
Diskusi publik ini menghadirkan tokoh Asy-Syahadatain dari lintas generasi dan latar belakang yang dianggap layak dan memiliki kompetensi yang diakui oleh masyarakat luas, baik dari sudut pandang akademis maupun prestasi lainnya, diantaranya adalah Habib Ali Ausath bin Yahya yang merupakan salah satu cucu dari Habib Umar bin Ismail bin Yahya sekaligus ketua umum Forum Kajian Adilah Asy-Syahadatain (FKAA) , Yusuf Muhajir Ilallah yang merupakan pengurus DPP Jama’ah Asy-Syahadatain Indonesia, Muhammad Maula Asy'ari yang juga menjabat sebagai Sekretaris Jendral IKBAL (Ikatan Keluarga Besar Alumni Nurul Huda Munjul Pesantren Cirebon), dan Muhammad Arifin yang dikenal aktif sebagai pegiat IT Nasional.

Habib Ali Ausath dalam paparannya menyampaikan panjang lebar tentang tuntunan ibadah dan akidah.


"Tuntunan Asy-Syahadatain menurut saya adalah tuntunan terbaik ketika kita mampu menerjemahkan tuntunan ini, maka akan relevan sepanjang zaman". Ungkap Habib Ali Ausath.


Habib Ali Ausath menambahkan, tujuan Asy-Syahadatain bukan fanatisme membabi buta. Menentang kejumudan dan kebekuan berfikir adalah tantangan besar, karena sangat berbahaya bagi dirisendiri dan lingkungan sosial.

Diskusi Publik Relevansi Tuntunan Alhabib Umar Bin Ismail Bin Yahya di Era Milenial
Tak berhenti sampai disitu, Ust. Muhammad Maula Asy'ari pun turut mengemukaan pandangannya tentang tuntunan Sayyidi Syekhunal Mukarrom.
Tuntunan Sayyidi Syekhunal Mukarom tidak hanya tuntunan ubudiyah, tetapi juga tuntunan pembentukan karakter manusia.
 Tegas Ust. Muhammad Maula Asy'Ari.


Muhammad Arifin selaku moderator dapat menyimpulkan, bahwa untuk mencapai kecerdasan emosional yang baik, mesti dibarengi dengan kecerdasan spiritual.

Tak kalah menarik, Ust Yusuf Muhajir Ilallah pernah menuangkan pengetahuannya dalam sebuah karya tulis miliknya yang berjudul "Memahami Tarekat Syahadat Shalawat" diterbitkan di Kudus Jawa Tengah pada 2017 silam.

Diskusi Publik Relevansi Tuntunan Alhabib Umar Bin Ismail Bin Yahya di Era Milenial
Memasuki sesi diskusi, saya berkesempatan untuk mengajukan pertanyaan, “Bagaimana deskripsi Asy-Syahadatain bila ditinjau dalam perspektif tasawuf?”

Pertanyaan saya mendapat tanggapan positif dari Ust. Yusuf Muhajir Ilallah, mengemukakan pandangannya tentang Asy-Syahadatain dalam perspektif tasawuf.


"Tasawuf itu di dalam aliran filsafat islam disebut sebagai nositisme, atau aliran pemikiran yang hubungannya dengan tasawuf. Tasawuf islam itu ada dua, ada yang sunni dan syi'ah". Ungkap Ustad yang kerap di sapa Kang Icuk.

Ust. Yusuf Muhajir Ilallah menambahkan, bahwa Sunni atau Ahlisunnah Waljama'ah di bagi menjadi dua, yaitu amali yang lebih berfokus pada ibadah, seperti dzikir, membaca aurod dan tawasul (Terlembagakan). Yang kedua adalah akhlaki dalam pembahasannya lebih menekankan pada penerapan moral, akhlak dan adab (Tidak terlembagakan). Ia menarik kesimpulan bahwa, thoriqoh Asy-Syahadatain memiliki dua unsur tasawuf  amali dan akhlaki sehingga di sebut sebagai nositisme dalam aliran filsafat islam.

"Asy-Syahadatain merupakan thoriqoh lokal, menyesuaikan dengan geografis dan keragaman yang ada di Indonesia." Tegas Ust. Yusuf Muhajir Ilallah sebagai statment penutup.

No comments:

Post a Comment