Pesan Cinta Buntet Pesantren untuk Dunia Melalui Dialog Antar Agama - Novia

Wednesday, September 4, 2019

Pesan Cinta Buntet Pesantren untuk Dunia Melalui Dialog Antar Agama

Oleh : Novia Kurniasari
Mahasiswi Semester III
Prodi Manajemen Pendidikan Islam STIT Buntet Pesantren

Global Interfaith Dialogue : Love Messages To The World
Cirebon : Pesan cinta dan damai dari Pondok Buntet Pesantren melalui dialog antar agama di Auditorium MANU Putra pada Rabu, (24/09). Berbeda dengan event sebelumnya yang berkaitan dengan Digital Literacy, kali ini mengangkat misi perdamaian dunia dengan tema 1000 Abrahamic Circles. Dimulai sejak pukul 14.00 dan dihadiri oleh ratusan audiens dari kalangan mahasiswa dan santri, event Global Interfaith Dialogue (dialog antar agama) ini bertajuk "Love Messages To The World". 

Turut hadir, tokoh NU sebagai narasumber, diantaranya adalah KH. Wawan Arwani Amin selaku Ketua Umum Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB Kabupaten Cirebon), KH. Aris Ni'matulloh MAF, M.Si sebagai Dewan Sekretaris Kepengurusan YLPI Buntet Pesantren, KH. Fahad Ahmad Sadat, SE.,M.ESy selaku Ketua Rektor STIT Buntet Pesantren dan Muhammad Abdullah Syukri, S.IP M.A sebagai moderator sekaligus pembawa acara.

Sebagai narasumber utama, Father Gligorije Markovic, pendeta Kristen Ortodoks dari Republic of Serbia dan Rabbi Howard Hoffman, Rabi Yahudi dari Denver, Amerika Serikat.

Kegiatan ini tak lepas dari terpilihnya M. Abdullah Syukri yang terbang menuju Denver, Amerika Serikat dan Belgrade, Serbia yang membawa misi perdamaian dunia. Misi ini adalah program gagasan Ambassador Dr. Dino Patti Djalal (Founder Foreign Policy Comunity of Indonesia) merupakan salah satu bagian dari upaya membangun era baru perdamaian dunia antar pemimpin dan penganut agama-agama Ibrahim (Yahudi, Kristen dan Islam) dan merupakan program jangka panjang yang di targetkan berjalan selama sepuluh tahun kedepan.

Dalam paparannya, KH Wawan Arwani Amin menyampaikan pandangannya tentang toleransi antar umat beragama. Menurutnya, Agama adalah sebagai pemandu kehidupan manusia dan mencegah potensi-potensi  buruk manusia. Ada banyak titik temu antar agama, seperti Yahudi, Kristen dan Islam. 

"Yahudi sebagai agama tertua di dunia meyakini bahwa Nabi Musa adalah sebagai tonggak kebenaran agamanya. Begitupun umat Kristiani mengimani Nabi Isa sebagai panutan bagi ummat kristiani." ungkap KH Wawan Arwani yang juga menjabat sebagai Rois Syuriah PCNU Kabupaten Cirebon.

Dialog Antar Agama, Pondok Buntet Pesantren Cirebon
KH Wawan Arwani menambahkan, Islam adalah agama termuda diantara keduanya, adalah Nabi Muhammad SAW yang di utus sebagai Rasul terakhir untuk menyempurnakan keadilan. Intinya adalah bahwa kita semua sama-sama menyakini adanya kebenaran mutlak dari Tuhan. Pada dasarnya semua agama mengajarkan kebaikan, kasih sayang dan kebenaran. 

"Menghormati dan menghargai keyakinan orang lain bukan berarti membenarkan keyakinan orang lain, tapi bukan berarti menjustifikasi orang lain juga, bahkan yang paling ironis saat ini adalah menghukumi orang lain." jelas KH. Wawan Arwani. 

Damai itu susah, tapi walaupun susah tetap indah. Untuk berdamai kita harus hidup bersama dan berbicara bersama

KH Wawan Arwani Amin

Tak ketinggalan, KH. Aris Ni'matulloh turut mengemukakan pandangannya, diawali dengan kisah panjang lebar terkait sejarah agama - agama samawi.

"Nabi Muhammad SAW dan Al - Qur'an tidak penah menyatakan bahwa islam berdiri sendiri. Islam itu satu mata rantai dengan agama - agama sebelumnya." ungkap Kyai yang akrab disapa Abah Imat tersebut.

Salah satu narasumber utama, Father Gligorgie Markovic yang juga merupakan pendeta di Gereja Ortodok Serbia mengungkapkan, hingga kini ajaran, kitab dan peribadatannya masih murni dan tidak pernah berubah hingga saat ini. 

"Kita semua memiliki keterkaitan yang sama, karna leluhur terdahulu kita ada pada saat zaman Rasul. Terima kasih karena Buntet telah mendelegasikan kita semua." katanya.

Lagi, kata Father Gligorgie Markovic, Agama mempersiapakan kita untuk berinteraksi dengan orang di luar kita. Dengan semua perbedaan saya merasa di rumah. Dengan melihat kyai dan para santri membuat saya merasa di rumah dan terasa nyaman.

"Apa pun profesi kita nanti kita semua adalah hamba dari tuhan yang satu, dan cara berinteraksi dengan orang lain adalah mengajak diri kita keluar." ungkapnya.

Rektor STIT Buntet Pesantren, KH. Fahad Ahmad Sadat menegaskan bahwa setiap agama adalah mengajarkan kasih sayang, cinta kasih dan kedamaian. Mengutip salah satu ayat dari kitab suci Al - Qur'an yang sangat familiar dengan ummat islam, Bismillahirrohmanirrokhim.

"Maknanya adalah Allah lebih mengedepankan kasih sayang bukan memperlihatkan kekuasaannya. Maka Allah mengutus kepada Nabi Muhammad sebagai rahmatan lil'alamin. Untuk memelihara perdamaian dan menerima perbedaan adalah dengan ilmu." kata Rektor STIT Buntet Pesantren tersebut.

Moderator sekaligus Dosen STIT Buntet Pesantren Cirebon, M Abdullah Syukri menyimpulkan beberapa hasil penjelasan dari narasumber, menurut pria yang akrab disapa Mas Dede tersebut, bertemu dengan banyak orang adalah membuat kita sadar bahwa kita tidak sendiri. 

"Indonesia adalah negara yang luar biasa, negara yang dapat menerima dan menempatkan islam satu nafas dengan ideologi dan intitusi kenegaraannya.'' kata Mas Dede.

Penyerahan Cinderamata

No comments:

Post a Comment